Minggu, 31 Oktober 2010
DIAGNOSIS KESULITAN MEMBACA
DIAGNOSIS KESULITAN MEMBACA PERMULAAN SISWA SD/MI MELALUI ANALISIS READING READINESS
Abstrak: Pembelajaran membaca di SD/MI yang dilaksanakan pada jenjang kelas 1 dan 2 merupakan pembelajaran membaca tahap awal atau disebut membaca permulaan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan agar siswa lancar membaca, namun tidak jarang ditemui ada beberapa atau sekelompok siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah melakukan diagnosis kesulitan membaca permulaan melalui analisis reading readiness. Diagnosis kesulitan membaca permulaan merupakan penentuan jenis kesulitan yang dialami siswa dalam penguasaan keterampilan membaca permulaan dengan cara menganalisis penyebab kesulitan dan upaya mengatasinya. Reading readiness atau kesiapan membaca dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan umum tentang kedewasaan, yakni bakat, kemampuan belajar, dan keterampilan seorang anak yang memungkinkan belajar membaca pada situasi pengajaran tertentu. Faktor-faktor yang berkaitan dengan analisis reading readiness yaitu (1) fisik, (2) psikologis (3) jenis kelamin, (4) pengetahuan, dan (5) sosial budaya.
Kata Kunci: membaca, membaca permulaan, siswa SD/MI, reading readiness.
Rajin Membaca, Genggam Dunia!. Jelajahi Dunia melalui Membaca!. Suka Membaca, Tahu Semua! Tiga kalimat tersebut adalah slogan yang memotivasi seseorang agar gemar membaca. Slogan tersebut juga mempunyai makna betapa besar manfaat membaca dalam rangka menambah wawasan. Membaca mempunyai peranan yang besar dalam mencerdaskan suatu masyarakat. Oleh karena itu keterampilan membaca merupakan keterampilan yang perlu dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat. Harris dan Sipay (1980:1) mengemukakan bahwa kemampuan membaca mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Kemampuan membaca menjadi semakin penting karena kehidupan masyarakat juga semakin kompleks. Kemajuan di bidang industri dan teknologi memerlukan orang yang berpendidikan khusus di bidangnya. Untuk itu diperlukan orang yang mempunyai kemampuan dan daya baca yang tinggi untuk mengkaji dan mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi. Ellis, dkk. (1989:254) menyatakan bahwa dalam masyarakat yang secara sederhana diasumsikan seluruh anggota masyarakatnya ‘melek huruf’ atau bisa baca-tulis, membaca merupakan alat yang sangat diperlukan dalam kehidupan modern.
Kebiasaan dan kegemaran membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Dalam rangka menumbuhkan kebiasaan dan kegemaran membaca pada suatu masyarakat perlu dimulai secara bertahap. Salah satu langkah awal dalam menumbuhkan kebiasaan dan kegemaran membaca dalam masyarakat adalah melalui penanaman kebiasaan membaca pada jenjang sekolah. Penanaman kebiasaan membaca tersebut, perlu diupayakan sejak anak berada pada jenjang sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI).
Penanaman kebiasaan membaca pada siswa SD/MI, perlu dimulai dari hal yang paling dasar terlebih dahulu yaitu mengupayakan kelancaran membaca pada siswa. Siswa perlu diajak untuk ‘melek huruf’ atau ‘melek wacana’ terlebih dahulu. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI, kegiatan yang berkaitan dengan masalah tersebut terwadahi dalam pembelajaran membaca permulaan, khususnya terdapat pada jenjang kelas 1 atau kelas 2 SD/MI. Dalam kondisi normal, pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan tersebut akan berjalan lancar, artinya siswa dengan mudah memahami apa yang mereka pelajari dalam kegiatan membaca. Namun, tidak jarang ditemui berbagai permasalahan dalam pembelajaran membaca permulaan. Sebagian siswa telah lancar dan tidak mengalami hambatan dalam belajar membaca tetapi sebagian lainnya belum bahkan tidak dapat atau tidak mampu membaca. Dalam kondisi tersebut para guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya perlu melakukan diagnosis yang menyebabkan anak mengalamai kesulitan dalam belajar membaca. Dalam bahasan berikut ini dikemukakan salah satu diagnosis kesulitan membaca permulaan siswa SD/MI melalui analisis reading readiness.
HAKIKAT MEMBACA
Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi nonvisual. Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca. Artinya kemampuan mengenal informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Dalam kaitannya dengan pemahaman dan perekonstruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan, Harris dan Sipay (1980) menyatakan bahwa membaca merupakan proses menafsirkan makna bahasa tulis secara tepat. Pengenalan makna kata sesuai dengan konteksnya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk memahami pesan yang terdapat pada bahan bacaan.
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1996/1997:49). Pendapat tersebut menekankan tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas diri seseorang. Seseorang akan ‘gagap teknologi’ dan ‘gagap informasi’ apabila jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan membaca. Informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan berbagai informasi aktual lainnya senantiasa berkembang pesat dari hari ke hari. Segala macam informasi dan perkembangan zaman tersebut selain dapat diikuti dari media elektronik (misalnya TV), juga dapat diikuti melalui media cetak dengan cara membaca. Kedua macam media informasi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Media elektronik dapat diakses dengan cara yang lebih santai karena tinggal menonton suatu tayangan di TV. Kelemahannya, tayangan tersebut tidak dapat ditonton ulang apabila kita membutuhkan informasi tersebut. Media cetak yang diakses dengan cara membaca mempunyai kekurangan dari segi pembaca, yakni ketersediaan waktu yang kurang mencukupi dalam membaca, kurangnya kemampuan memahami teks bacaan, rendahnya motivasi dalam membaca, kurangnya kebiasaan membaca, dsb. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan media elektronik (misalnya TV), kegiatan membaca mempunyai kelebihan yakni teks bacaan tersebut dapat dibaca ulang apabila informasi dalam teks bacaan tersebut sewaktu-waktu diperlukan.
Dari hakikat membaca yang telah diuraikan tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan membaca mempunyai berbagai macam tujuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang akan melakukan kegiatan membaca tentu mempunyai maksud mengapa dia perlu membaca teks tersebut yang selanjutnya dapat mengambil manfaat setelah kegiatan membaca berlangsung. Manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan, (7) media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual; dsb.
Oleh karena kegiatan membaca mempunyai berbagai manfaat dalam kehidupan, maka kegiatan membaca perlu dilatihkan secara intensif dalam pembelajaran di sekolah, utamanya dimulai dari jenjang SD/MI. Pembelajaran membaca di SD/MI secara intensif dilatihkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Secara umum pembelajaran membaca di SD/MI dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut. Dalam bahasan berikut ini selanjutnya difokuskan tentang pembelajaran membaca permulaan serta bagamana mendiagnosis kesulitannya apabila dalam pelaksanaannya ternyata siswa SD/MI mengalami hambatan dalam belajar membaca.
PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DI SD/MI
Pembelajaran membaca permulaan di SD/MI mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa. Akhadiah (1992) dalam Zuchdi dan Budiasih (1996/1997:49) menyatakan bahwa melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik.
Kegiatan membaca permulaan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan menulis permulaan. Artinya, kedua macam keterampilan berbahasa tersebut dapat dilatihkan secara bersamaan. Ketika siswa belajar membaca, siswa juga belajar mengenal tulisan yakni berupa huruf-suku kata-kata-kalimat yang dibaca. Setelah belajar membaca satuan unit bahasa tersebut, siswa perlu belajar bagaimana menuliskannya. Demikian pula sebaliknya, ketika siswa belajar menulis huruf-suku kata-kata-kalimat, siswa juga belajar bagaimana cara membaca satuan unit bahasa tersebut.
Meskipun pembelajaran membaca dan menulis permulaan dapat diajarkan secara terpadu, namun pelaksanaannya tetap dilakukan secara bertahap, dimulai kegiatan membaca terlebih dahulu baru kemudian dipadukan dengan kegiatan menulis. Hal itu dilakukan karena keterampilan membaca dapat diprediksikan mempunyai tingkat kesulitan lebih rendah dari pada keterampilan menulis yang mempunyai tingkat kesulitan lebih tinggi karena perlu melibatkan keterampilan penunjang khusus yaitu berkaitan dengan kesiapan keterampilan motorik siswa. Meskipun mempunyai keterampilan membaca mempunyai tingkat kesulitan lebih rendah, namun masih cukup banyak dijumpai berbagai kasus tentang kesulitan anak dalam membaca. Oleh karena itu dalam bahasan ini difokuskan pada pembelajaran membaca, yakni membaca permulaan di SD/MI
Hasil belajar yang diharapkan dalam pembelajaran Membaca Permulaan di kelas 1 SD/MI antara lain siswa dapat (1) membiasakan diri dan bersikap dengan benar dalam membaca gambar tunggal, gambar seri, dan gambar dalam buku; (2) membaca nyaring suku kata, kata, label, angka Arab, kalimat sederhana; (3) membaca bersuara (lancar) kalimat sederhana terdiri atas 3—5 kata; (4) membacakan penggalan cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat (Depdiknas, 2003). Hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan dan kondisi siswa. Pencapaiannya juga perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan tingkat kesulitan materi, kemampuan siswa, kondisi lingkungan setempat, ketersediaan sarana dan prasarana, dsb.
Pembiasaan diri dalam bersikap dalam membaca termasuk langkah awal dalam pembelajaran membaca permulaan. Siswa SD/MI perlu dilatih bagaimana sikap duduk dalam membaca, berapa jarak ideal antara mata dengan bahan bacaan, bagaimana cara meletakkan buku atau posisi di meja, bagaimana cara memegang buku, bagaimana cara membuka halaman demi halaman pada buku yang dibaca, dsb. Setelah materi tersebut dikuasai, baru mulai dilakukan pembelajaran membaca nyaring tentang suku kata, kata, label, angka Arab, serta kalimat sederhana. Dalam pelaksaanaan pembelajarannya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu induktif dan deduktif. Model induktif yaitu model pembelajaran dari khusus ke umum, sedangkan model deduktif yaitu model pembelajaran dari umum ke khusus. Dalam model induktif, siswa SD/MI diperkenalkan unit bahasa terkekil terlebih dahulu baru kemudian mengenalkan kalimat dan wacana. Jadi, siswa diperkenalkan dulu bunyi-bunyi bahasa atau huruf huruf, baru diperkenalkan suku kata. Dari suku kata selanjutnya diperkenalkan kata dan dilanjutkan pengenalan kalimat serta teks bacaan utuh atau wacana. Metode pembelajaran membaca menulis permulaan yang menggunakan model pembelajaran induktif tersebut adalah (1) Metode Abjad; (2) Metode Bunyi; (3) Metode Suku Kata; dan (4) Metode Kata Lembaga. Dalam Depdikbud (1991/1992) disebutkan bahwa Metode Abjad adalah metode pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan langkah-langkah pengenalan/membaca hurufm merangkai huruf menjadi suku kata, menggabungkan suku kata menjadi kalimat. Metode Bunyi mempunyai kesamaan dengan Metode Huruf, hanya berbeda dari segi cara melafalkan huruf atau bunyi bahasa yang sedang dipelajari.
Metode Suku Kata adalah metode pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan langkah-langkah menyajikan kata-kata yang sudah dikupas menjadi suku kata. Kemudian suku-suku kata itu dirangkaikan menjadi kata, dan langkah terakhir merangkai kata menjadi kalimat. Metode ini hampir sama dengan Metode Kata Lembaga, yakni pembelajaran membaca dan menulis permulaan yang pelaksanaan pembelajarannya dimulai dengan mengenalkan kata. Dalam Zuchdi dan Budiasih (1996/1997) disebutkan bahwa ‘kata lembaga’ adalah kata-kata yang sudah dikenal anak.
Dalam model deduktif, siswa SD/MI diperkenalkan unit bahasa terbesar terlebih dahulu (kalimat, wacana) baru kemudian mengenalkan kata, suku kata, sampai dengan huruf-huruf atau bunyi-bunyi bahasa. Metode pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran deduktif tersebut adalah (1) Metode Global dan Metode SAS. Zuchdi dan Budiasih (1996/1997)menyatakan bahwa Metode Global timbul sebagai akibat adanya pengaruh psikologi gestalt, yang berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna dari pada jumlah bagian-bagiannya. Dalam penerapannya metode ini memperkenalkan kepada siswa SD/MI beberapa kalimat untuk dibaca. Meskipun siswa belum mengenal huruf-huruf atau kata, siswa tetap diajarkan untuk membaca kalimat tersebut dengan cara menirukan ulang kalimat yang dibaca oleh.guru. Selanjutnya satu di antara kalimat tersebut diambil dan digunakan sebagai contoh dari kalimat yang akan dianalisis. Kalimat-kalimat tersebut diuraikan atyas kata, suku kata, huruf-huruf. Sesudah siswa mengenal huruf-huruf, barulah huruf-huruf tersebut dirangkaikan menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat.
Istilah SAS berasal dari singkatan Struktural Analisis Sintetik. Meode SAS adalah metode pembelajaran membaca dan menulis permulaan yang dimulai dengan langkah bercerita sambil menunjukkan gambar pendukung. Setelah itu siswa diajak untuk membaca gambar tersebut, yang dilanjutkan dengan membaca kalimat yang ada di bawah gambar. Selanjutnya gambar dilepas atau diambil dan tinggal kalimatnya. Siswa berlatih membaca kalimat tanpa bantuan gambar (proses struktural). Kalimat tersebut lalu dianalisis menjadi kata, suku kata, huruf-huruf (proses analitik). Langkah terakhir adalah menggabungkan kembali huruf-huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat (proses sintetik).
Metode-metode pembelajaran membaca permulaan tersebut merupakan alternatif upaya yang dilakukan agar siswa ‘melek huruf’ atau ‘melek wacana’. Dengan kata lain metode pembelajaran membaca permulaan tersebut merupakan alternatif cara yang dapat dipilih oleh guru agar siswa SD/MI dapat membaca dengan lancar. Setelah siswa dapat membaca dengan lancar, barulah siswa dilatih untuk membaca berbagai teks bacaan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam rangka melancarkan keterampilan membaca, diajarkan pula cara melafalkan kata dan kalimat yang benar serta diajarkan pula bagaimana intonasi yang wajar dalam membaca. Selain teks nonsastra, teks sastra dikenalkan pula pada anak dalam pembelajaran membaca permulaan, misalnya dalam pembelajaran membacakan penggalan cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat.
ANALISIS READING READINESS PADA PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DI SD/MI
Siswa SD/MI perlu memiliki keterampilan membaca yang memadahi. Pembelajaran membaca di SD/MI yang dilaksanakan pada jenjang kelas 1 dan 2 merupakan pembelajaran membaca tahap awal atau disebut membaca permulaan. Penguasaan keterampilan membaca permulaan mempunyai nilai yang strategis bagi penguasaan mata pelajaran lain di SD/MI Oleh karena itu semua siswa SD/MI perlu diupayakan agar dapat membaca dan memiliki kelancaran dalam membaca.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan agar siswa lancar membaca, namun tidak jarang ditemui ada beberapa atau sekelompok siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca. Dalam kondisi tersebut guru, orang tua, atau orang dewasa yang dekat dengan anak perlu mengupayakan bantuan dan pendampingan agar anak yang mengalami kesulitan membaca tersebut segera mendapatkan penanganan yang tepat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan diagnosis kesulitan membaca permulaan melalui analisis reading readiness.
Dalam bidang kedokteran, kata diagnosis berarti penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti/memeriksa gejala-gejalanya. Dalam bidang sosial, kata diagnosis berarti pemeriksaan terhadap suatu hal (Depdiknas, 2002). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
diagnosis kesulitan membaca permulaan merupakan penentuan jenis kesulitan yang dialami siswa dalam penguasaan keterampilan membaca permulaan dengan cara menganalisis penyebab kesulitan dan upaya mengatasinya. Harris dan Sipay (1980:19) menyatakan bahwa Reading readiness atau kesiapan membaca dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan umum tentang kedewasaan, yakni bakat, kemampuan belajar, dan keterampilan seorang anak yang memungkinkan belajar membaca pada situasi pengajaran tertentu.
Faktor-faktor yang berkaitan dengan analisis reading readiness atau kesiapan membaca yaitu (1) fisik, (2) psikologis (3) jenis kelamin, (4) pengetahuan, dan (5) sosial budaya. Faktor fisik yang berkaitan dengan kesiapan membaca antara lain berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, dan kekurangan nutrisi. Penglihatan mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kegiatan membaca. Apabila siswa SD/MI mempunyai gangguan penglihatan yang parah, tentulah perlu bantuan paramedis. Namun apabila gangguan penglihatan itu masih dalam batas toleransi maka gangguan penglihatan yang berkaitan dengan kegiatan membaca tersebut dapat diatasi dengan cara tertentu. Agar mempunyai tingkat kesiapan membaca yang maksimal maka diperlukan alat penunjang kegiatan membaca yang sesuai. Misalnya, gambar dan tulisan yang akan dijadikan alat untuk belajar membaca harus berukuran besar dengan ukuran tinggi huruf kurang lebih 1 cm. Apabila pembelajaran membaca dilaksanakan menggunakan media papan tulis, maka dipayakan menggunakan papan tulis dengan jenis yang tidak mengkilat supaya tidak menyilaukan pandangan. Selain itu perlu juga diupayakan menggunakan ruangan yang mempunyai cahaya yang terang atau menggunakan lampu yang terang.
Di samping memiliki kesiapan dari segi penglihatan, faktor fisik lainnya yang berkaitan dengan kegiatan membaca bagi siswa SD/MI adalah faktor pendengaran. Seperti halnya penglihatan, apabila siswa SD/MI mempunyai gangguan pendengaran yang parah, tentulah perlu bantuan paramedis atau menggunakan alat elektronik sebagai alat bantu pendengaran. Namun apabila gangguan pendengaran itu masih dalam batas toleransi maka gangguan pendengaran yang berkaitan dengan kegiatan membaca tersebut dapat diatasi dengan cara tertentu. Misalnya, siswa yang mempunyai gangguan pendengaran tersebut diletakkan pada tempat yang dekat dengan pengajar, yakni pada tempat duduk deretan paling depan. Pada waktu-waktu tertentu, guru dan orang dewasa lainnya yang sedang mengajarkan membaca permulaan pada siswa SD/MI perlu duduk berdekatan atau berdampingan dengan siswa yang belajar membaca dengan sedikit menambah volume suara di atas suara normal. Selain itu siswa SD/MI yang mengalami gangguan pendengaran tersebut harus selalu menatap wajah, terutama mulut atau gerak bibir guru dan orang dewasa lainnya yang sedang mengajarkan membaca.
Faktor fisik dengan penglihatan dan pendengaran normal belum menjamin siswa SD/MI dapat berhasil dalam membaca. Faktor fisik lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah fakor nutrisi. Nutrisi merupakan makanan bergizi yang diperlukan tubuh manusia. Apabila seorang anak kekurangan nutrisi maka tubuhnya akan lemah dan tidak memempunyai tenaga atau kekuatan untuk berbuat sesuatu. Apabila tubuh lemah, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada kemampuan untuk belajar sesuatu, termasuk belajar membaca. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan siswa SD/MI mengalami kesulitan dalam belajar membaca permulaan. Dalam kondisi demikian maka guru atau pihak sekolah perlu bekerja sama dengan lembaga terkait dan bekerja sama dengan pihak orang tua siswa. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya menghubungi lembaga pemberi bantuan dana kesehatan. Melalui lembaga ini siswa akan mendapatkan bantuan kesehatan berupa pemberian vitamin tertentu dan tambahan makanan bergizi lainnya. Bentuk kerja sama dengan orang tua yaitu memotivasi orang tua supaya selalu memberi makanan yang bergizi pada anaknya terutama memberikan sarapan atau makan pagi. Makanan yang diberikan kepada anak tidak harus mahal, tetapi harus mengandung gizi yang baik.
Analisis kesiapan membaca juga dapat dilihat dari faktor psikologis. Kondisi psikis yang baik dapat diprediksikan dapat berpengaruh pada tingkat kesiapan membaca. Apabila siswa SD/MI berada pada kondisi psikis yang tidak seimbang, maka perlu dicari penyebab dan upaya mengatasinya. Guru atau orang dewasa lainnya yang mengajarkan keterampilan membaca perlu memberikan motivasi, semangat, dorongan, serta memberikan harapan pada siswa tentang manfaat apa yang akan diperoleh siswa apabila dapat atau lancar membaca. Selain itu, pembelajaran membaca perlu diupayakan dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Sebelum pembelajaran membaca berlangsung, siswa perlu diajak bercerita, mendengarkan dongeng, atau melihat gambar-gambar yang menarik. Melalui upaya tersebut siswa SD/MI diharapkan berada dalam kondisi psikis yang baik sehingga mempunyai tingkat kesiapan membaca yang baik pula. Dengan demikian siswa SD/MI tidak akan mengalami kesulitan dalam belajar membaca.
Pada umumnya perbedaan jenis kelamin mempunyai kaitan dengan minat seseorang anak terhadap belajar sesuatu. Huss (dalam Huck, 1987) menyatakan keterkaitan antara minat baca dengan perbedaan usia dan jenis kelamin, antara lain anak laki-laki tampak menyukai petualangan, sedangkan anak perempuan menyukai fiksi. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa siswa SD/MI yang mengalami kesulitan dalam belajar membaca perlu diberikan pemancing berupa cerita-cerita, dongeng-dongeng, atau gambar-gambar yang sesuai dengan jenis kelamin dan kecenderungan minatnya. Hal lain yang berkaitan dengan analisis kesiapan membaca adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh anak. Pengetahuan tersebut berupa pengalaman-pengalaman baik pengalaman yang dialami sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Semua pengetahuan atau pengalaman yang tersimpan dalam memori otak tersebut akan memperkaya wawasan anak. Pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki itu akan mempermudah dalam belajar membaca, karena anak dapat mengaitkan antara pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan apa yang dipelajari dalam membaca. Apabila siswa mengalami kesulitan dalam membaca disebabkan kurangnya pengetahuan yang dimiliki, maka permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan informasi yang menarik secara terus-menerus dan berkesinambungan kepada siswa SD/MI. Dengan demikian permasalahan kesulitan membaca yang disebabkan kurangnya pengetahuan dapat diatasi sejak dini.
Faktor sosial budaya tidak kalah pentingnya dalam analisis reading readiness atau kesiapan membaca. Pada bahasa ini faktor sosial budaya hanya difokuskan pada budaya baca atau kebiasaan membaca. Budaya baca di lingkungan tempat tinggal siswa maupun budaya baca di lingkungan sekolah mempunyai kaitan dengan kesiapan membaca. Apabila budaya baca pada lingkungan rumah maupun sekolah cukup baik, maka diharapkan anak telah memiliki tingkat kesiapan membaca yang baik. Budaya baca di lingkungan tempat tinggal siswa memang tidak dapat dikontrol secara langsung, namun hanya dapat diatasi dengan cara menghimbau agar orang tua dan anggota keluarga untuk meningkatkan budaya baca di rumah. Agar siswa SD/MI tidak mengalami kesulitan dalam belajar membaca maka perlu diciptakan budaya baca di sekolah maupun di lingkungan rumah. Dengan demikian diharapkan semua siswa akan memiliki tingkat kesiapan membaca yang baik.
SIMPULAN
Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu. Salah satu target hasil belajar yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran membaca permulaan adalah siswa memiliki kelancaran dalam membaca. Pembelajaran membaca permulaan dilaksanakan dengan berbagai metode. Setiap metode pembelajaran membaca permulaan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode yang satu akan melengkapi metode yang lain. Guru dapat memilih salah satu atau menggabungkan berbagai metode sesuai dengan kondisi siswa dan tersedianya sarana pendukung lainnya. Selain itu, guru juga boleh menciptakan model baru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan.
Pembelajaran membaca permulaan di SD/MI diharapkan akan berhasil apabila siswa telah memiliki kesiapan membaca. Apabila ternyata masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca maka perlu dilakukan diagnosis kesulitan membaca. Diagnosis kesulitan membaca perlu ditinjau dari berbagai aspek. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah melakukan diagnosis kesulitan membaca permulaan melalui analisis reading readiness. Melalui analisis ini maka kesulitan siswa SD/MI dalam membaca permulaan diharapkan dapat diatasi dengan baik.
DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas, 2003. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa. Jakarta : Depdiknas.
Ellis, A; Pennau, J; Standal, T; & Rummel, MK. 1989. Elementary Language Arts Instruction. New Jersey : Prentice-Hall Inc.
Harris, AJ dan Sipay, ER. 1980. How to Increase Reading Ability. New York: Longman Inc.
Huck, CS. 1987. Children Literature in The Elementary School. Fort Worth: Holt, Rinehart and Winston Inc.
Zuchdi, D dan Budiasih. 1996/1997. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Proyek Pengembangan PGSD Dirjen Dikti Depdikbud.
Strategi Pembelajaran Membaca
Strategi Pembelajaran Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan memahami bacaan dalam rangka memperoleh informasi atau pesan yang terkandung di dalam bacaan. Untuk memperoleh kemampuan membaca yang memadai, seseorang memerlukan banyak pengetahuan dan kemampuan lain sebagai pendukung. Herber (1978: 9-10) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir yang meliputi kegiatan: 1) memahami dan menghubungkan simbol-simbol bahasa yang disebut dengan decoding; 2) memaknai gubungan simbol-simbol (kata-kata) tersebut yang merupakan tahap interpretation; dan 3) menerapkan ide atau pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan dalam kehidupan sehari-hari merupakan tahap aplication.
Decoding
Decoding adalah suatu proses memahami simbol-simbol bahasa yaitu simbol grafis atau harus-huruf dengan cara mengasosiasikannya atau menghubungkan simbol-simbol dengan bunyi-bunyi bahasa beserta variasi-variasinya. Untuk dapat memahami proses decoding, bacalah kalimat berikut ini dengan suara keras.
Drama boneka hampir sama dengan wayang. Bedanya, dalam drama boneka para tokoh digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh bebarapa orang.
Bagaimana?! Apa yang Anda rasakan setelah melakukan kegiatan membaca dengan keras tadi? Ya! Pasti diantara Anda ada yang merasa seperti siswa SD yang sedang belajar membaca. Ada juga yang merasa seperti siswa SMP yang sedang menghafal pelajaran untuk ulangan besok pagi. Inilah yang disebut dengan proses decoding. Dalam proses ini orang hanya berusaha memahami simbol-simbol tersebut dan bagaimana membunyikannya dengan benar. Bila Siswa SD atau SMP ditanyakan tentang isi kalimat itu, dia tidak dapat menjawabnya. Hal seperti ini mungkin juga terjadi pada orang dewasa.
Perlu Anda ketahui, bahwa orang yang baru saja mengenal huruf atau simbol-simbol bahasa tulis, tanpa disadari akan membunyikan simbol-simbol tersebut dengan bersuara ketika sedang membaca.
Interpretation
Interpretation atau interpretasi merupakan kegiatan memahami maksud atau informasi yang terkandung dalam bacaan. Pada tahap ini pembaca dituntut untuk mampu menafsirkan makna setiap kata dan menghubungkannya menjadi satu kesatuan makna yang utuh sesuai dengan konteks yang terdapat dalam bacaan. Oleh karena itu dalam proses interpretasi diperlukan pengertahuan tentang makna kata atau kosakata (Vocabulary). Sebagai contoh, kita kembali pada contoh kalimat diatas, jika satu kata saja misalnya kata drama atau wayang, atau yang lainnya tidak kita ketahui maknanya, maka kita akan kesulitan menangkap makna atau menafsirkan isi kalimat tersebut.
Pada tingkat ini pembaca tidak lagi berpikir tentang simbol-simbol bahasa (huruf). Simbol-simbol tersebut sudah secara otomatis dikenal oleh monitor yang ada di otak setiap pembaca
Aplikasi
Pembaca yang telah sampai pada tingkatan ini akan mampu memanfaatkan hasil bacaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman dalam Membaca
Sehubungan dengan tingkat pemahaman, Smith mengelompokkan kemampuan membaca menjadi 4 kategori, yaitu 1) pemahaman literal, 2) interpretasi, 3) membaca kritis, dan 4) membaca kreatif.
Efek Musik pada Bayi
Pada kira-kira bulan kelima, hubungan-hubungan dalam sistem pendengaran bayi cukup matang untuk memungkinkan otak memprogram bunyi secara utuh . Sejak saat ini, si kecil yang ada dalam perut Anda menjadi penguping sepanjang waktu. Suara Anda yang menjalar melalui kulit, otot, dan cairan dalam tubuh akhirnya sampai ke telinga sang bayi, walupun bunyi-bunyi tersebut hanya berupa bunyi cuit-cuit (tajam) yang bernada (tinggi) jika Anda berbicara dengan suara keras. Namun, melodi dan irama bicara Anda (juga semua bunyi) sampai ke telinga bayi tanpa perubahan (Don Campbell, 2001: 28).
Mari kita pahami kutipan wacana di atas secara literal. Sebelum itu kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan pemahaman literal berikut ini!
Pemahaman Literal
Tingkat pemahaman yang pertama adalah pemahaman literal, artinya pembaca hanya memahami makna apa adanya, sesuai dengan makna simbol-simbol bahasa yang ada dalam bacaan. Yang pertama kita menemukan kata kunci pada wacana tersebut, yaitu bulan kelima, pendengaran bayi, cuit-cuit, bernada tinggi, melodi dan irama (bergaris bawah dan cetak miring). Dari kata kunci tersebut kita dapat menangkap pesan yang terkandung dalam wacana yaitu, bahwa:
bayi dalam kandungan atau janin berusia 5 bulan sudah dapat mendengar bunyi-bunyi terutama bunyi-bunyi yang dikeluarkan melalui suara ibunya;
melodi dan irama berbicara ibu akan ditangkap secara tepat/persis oleh telinga bayi (tanpa perubahan).
Tes yang sesuai diajukan untuk mengukur kemampuan membaca tingkat ini berkisar pada contoh-contoh pertanyaan berikut ini.
Apa yang terjadi pada janin ketika berusia 5 bulan?
Apa yang dapat dilakukan janin ketika berusia 5 bulan?
Bunyi yang bagaimana yang dapat ditangkap janin berusia 5 bulan?
Unsur-unsur bunyi apa yang ditangkap janin secara tepat atau tanpa perubahan?
Jelasnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada pembaca dengan tingkat pemahaman literal tidak menuntut jawaban yang berada di luar teks. Artinya seluruh jawaban dapat ditemukan di dalam teks.
Pemahaman Interpretasi
Tingkat pemahaman kedua adalah pemahaman interpretasi. Pada tingkat ini pembaca sudah mampu menangkap pesan secara tersirat. Artinya di samping pesan-pesan secar terurat seperti pada tingkat pemahaman literal, pembaca juga dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan misalnya sebagai berikut.
- Apa yang sebaiknya dilakukan ibu hamil ketika kandungannya berusia 5 bulan?
Berikan alasan atas pendapat Anda!
- Percayakan Anda bahwa alat dengar bayi dapat dilatih sejak dalam kandungan?
Jelaskan pendapat Anda!
Contoh pertanyaan di atas tidak dapat dijawab dengan menggunakan teks wacana. Jawaban atas pertanyaan tersebut memerlukan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh si pembaca tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dapat muncul berdasarkan teks atau bacaan.
Pemahaman Kritis
Tingkat pemahaman ketiga adalah pemahaman kritis, kegiatan membacanya disebut dengan membaca kritis. Pada tingkat ini, pembaca tidak hanya mampu menangkap makna tersurat dan tersirat. Pembaca pada tingkat ini mampu menganalisis dan sekaligus membuat sintesis dari informasi yang diperolehnya melalui bacaan. Di samping itu pembaca juga mampu melakukan evaluasi atau penilaian secara akurat. Artinya, pembaca tahu persis akan kebenaran atau kesalahan isi wacana berdasarkan pengetahuan dan data-data yang dimilikinya tentang informasi yang ada dalam bacaan. Pembaca pada tingkat ini sudah mampu membuat kritik terhadap satu bacaan atau sebuah buku.
Misal, kita gunakan lagi contoh kutipan wacana di atas (Efek Musik pada Bayi). Pembaca kritis akan memberi penguatan atas isi wacana tersebut jika informasi yang terkandung di dalamnya dia ketahui kebenarannya 100% dan dia akan mempermasalahkan sekaligus juga memperbaiki informasi tersebut jika terdapat kesalahan dari segi penampaian atau penggunaan data yang tidak tepat.
Pemahaman Kreatif
Tingkat pemahaman tertinggi adalah pemahaman kreatif. Pembaca tingkat ini memiliki pemahaman lebih tinggi dari ketiga tingkat sebelumnya. Selesai membaca, pembaca akan mencoba atau bereksperimen membuat sesuatu yang baru berdasarkan isi bacaan. Dari wacana di atas, pembaca dapat membuat aransement musik yang menurutnya dapat digunakan untuk melatih pendengaran bayi menjadi lebih baik dari bayi-bayi yang lain, atau pembaca akan menulis sebuah buku yang berisis tentang bagaimana sebaiknya seorang ibu hamil melatih rasa atau membentuk karakter anak melalui latihan mendengarkan sejak dalam kandungan.
Demikianlah Saudara, uraian tentang membaca dan tingkat-tingkat pemahaman yang dimiliki seorang pembaca. Jika Anda seorang pembaca yang memiliki tingkat pemahaman interpretasi, Anda akan mampu makna tersirat dari uraian ini, yaitu berupa pertanyaan sudah sampai di manakah tingkat pemahaman saya? Dan bagaimanakah sebaiknya saya mengajarkan membaca pada siswa-siswa saya agar mereka memiliki tingkat pemahaman yang tinggi?
Strategi Pembelajaran Membaca
Saudara mahasiswa, bila kita bicara tentang strategi pembelajaran, maka kita harus kembali pada landasan/falsafah atau pandangan-pandangan yang mendasar tentang pembelajaran dan materi yang akan kita ajarkan untuk menemukan pendekatan, metode, dan teknik yang tepat demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bertujuan mengubah pengalaman atau perilaku seseorang yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak bisa menjadi bisa. Untuk mencapai hal tersbut diperlukan adanya proses dan aktivitas siswa. Dari pandangan tersubut muncullah pendekatan Keterampilan Proses dan Cara Belajar Siswa Aktif (ABSA).
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, maka pendekatan pembelajaran muncul berdasarkan hakikat bahasa itu sendiri. Ada berbagai pandangan tentang bahasa, antara lain 1) bahasa adalah alat komunikasi; 2) bahasa terdiri atas beberapa keterampilan (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan 3) bahasa memiliki unsur-unsur pembentuk yaitu unsur kebahasaan. Dari pandangan pertama muncul pendekatan komunikatif, pandangan kedua memunculkan pendekatan integratif, dan pandangan ketiga mengajukan pendekatan struktural bagi pembelajaran bahasa.
Selain berbagai pendekatan yang menjadi pijakan pembelajaran bahasa, diperlukan pula metode dan teknik yang sesuai dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran bahasa sebaiknya secara bervariasi, artinya dalam pembelajaran bahasa digunakan lebih dari satu pendekatan, metode, dan juga teknik.
Uraian tentang pendekatan, metode, dan teknik ini sudah Anda pelajari ketika Anda menempuh program D-III mata kuliah Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia atau Interaksi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Kurikulum 1994 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia lebih menekankan pada penggunaan pendekatan terpadu atau integratif. Pembelajaran membaca dengan pendekatan terpadu dilaksanakan dengan cara memadukan pelajaran membaca dengan pelajaran keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, atau menulis. Selain itu pelajaran membaca juga dapat dipadukan dengan pelajaran lain di luar bahasa seperti IPA, IPS, Agma, dan yang lainya.
Dengan diintegrasikannya keempat keterampilan berbahasa dalam pembelajaran membaca, guru lebih dapat memanfaatkan aktivitas memperoleh informasi (information getting) melalui membaca dan mendengarkan, dan berbagi informasi (information sharing) dalam kegiatan menulis dan berbicara. Melalui kegiatan membaca dan mendengarkan siswa berlatih menangkap informasi dan melalui kegiatan berbicara dan menulis siswa berlatih berinteraksi dengan orang lain.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam melaksanakan pembelajaran membaca, yang tentu saja harus dipilih berdasarkan keseuaian dengan komponen-komponen pembelajaran membaca yang satu dengan lainnya salaing terkait. Komponen-komponen tersebut adalah: perkembangan atau tingkat berpikir siswa (jenjang kelas), tujuan, materi, pendekatan, metode, teknik, dan media pembelajaran sebagai media pendukung pencapaian tujuan pembelajaran.
Sehubungan dengan langkah-langkah pembelajaran, Ruddel (1978) seorang ahli pengajaran khususnya bidang keterampilan membaca menyatakan bahwa dalam menuntun anak didik untuk mencapai tingkat pemahaman yang berdaya guna, seorang guru harus mengupayakan agar anak didiknya dapat menguasai langkah-langkah berikut ini.
Menangkap rincian yang meliputi kemampuan menngidentifikasi, membandingkan, dan mengklasifikasikan gagasan-gagasan yang dituangkan penulis;
Menangkap urutan (sequence) gagasan yang dipergunakan penulis untuk mendukung pokok-pokok pikirannya;
Menemukan sebab akibat;
Menemukan gagasan pokok dan gagasan penunjang;
Meramalkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal muncul pada bagian berikutnya dari bacaan;
Menilai maksud yang dikemukakan;
Berlatih memecahkan masalah yang dilemparkan oleh penulis.
Setelah Anda melaksnakan pembelajaran membaca dengan menggunakan strategi pembelajaran membaca yang tepat seperti yang diuraikan di atas, dan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang Anda lakukan Anda pasti sudah mengetahui langkah apa yang harus Anda lakukan. Ya, benar! Evaluasi.
Evaluasi adalah suatu proses yang bertujuan mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang telah dilakukan, dalam hal ini adalah kegiatan pembelajaran membaca. Evaluasi pembelajaran dilakukan dalam proses yang disebut dengan evaluasi proses dan pada akhir pembelajaran yang disebut dengan evaluasi hasil.
Evaluasi proses dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan alat atau instrumen yang lebih menekankan pada instrumen non-tes. Aspek-aspek yang dinilai melalui instrumen non-tes untuk pembelajaran membaca dapat berupa; motivasi, minat/antusias, dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Evaluasi hasil yang dilakukan pada akhir pembelajaran mendapat penekanan pada hasil kegiatan membaca, oleh karena itu alat yang digunakan berupa tes yang meliputi aspek-aspek yang dibicarakan dalam bacaan. Tes bisa berupa tertulis dan lisan yang tidak keluar dari isi bacaan.
PEMBELAJARAN MEMBACA KELAS TINGGI
Pembelajaran Membaca dan Sastra Anak di Kelas Tinggi
A. Hubungan Antara Membaca Dan Sastra
Fungsi karya sastra dalam mengembangkan kemampuan membaca dapat disebut sebagai nilai pendidikan. Lehman menemukan bahwa pembelajaran berdasarkan karya sastra membina hubungan sosial antar murid dan guru.
Manfaat sastra berfungsi sebagai alat menghibur sekaligus juga mendidik. Ada dua nilai yang diperoleh dari sastra yaitu:
1. Memahami kebutuhan akan kepuasan pribadi
2. Pengembangan kemampuan berbahasa
Karya sastra juga berfungsi sebagai pemberi penguatan pada kemampuan berfikir naratif, dan juga mengembangkan wawasan.
Menurut Tomkins keberwacanaan merupakan kemampuan menggunakan membaca dan menulis dalam menunaikan tugas-tugas yang bertalian dalam dunia kerja dan kehidupan di luar sekolah. Dari pernyataan tersebut dapat dicirikan bahwa keberwacanaan mengacu pada ketrampilan membaca dan menulis secara efektif.
Pengembangan keberwacanaan dapat dilaksanakan melalui pemanfaatan sastra anak-anak sebagai media pembelajaran membaca dan menulis. Hal ini bardasarkan pada bahwa sastra dapat mengembangkan bahasa anak.
Membacakan cerita atau puisi anak dapat menggerakkan minat anak dalam membaca. Menyimak cerita dapat memperkenalkan pola-pola bahasa dan pengembangan kosa kata dan maknanya.
B. Pengembangan Pembelajaran Membaca Berdasarkan Karya Sastra
1. Pembelajaran Membaca Berlandaskan Sastra
Pembelajaran ini menggunakan pendekatan dan strategi untuk membantu perkembangan ketrampilan berbahasa. Pembelajaran ini bersifat terpadu. Pengajaran sastra dalam KBK tahun 2004 bukan lagi berdasarkan pengajaran tentang sastra atau pengetahuan sastra melainkan digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadiannya.
2. Pengertian dan Pemilihan Bahan Membaca
Membaca bukan kegiatan yang pasif. Membaca adalah komunikasi interaktif yang meliputi latar belakang pengalaman pembaca, bahasa, dan suatu organisasi gagasan-gagasan.
Membaca pada dasarnya proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kriteria pemilihan bahan membaca:
a. Bahan harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak (aspek usia dan minat)
b. Tingkat linguistik dan stilistik (kosakata dan struktur bahasa sastra harus terjangkau oleh kemampuan)
c. Latar belakang
Teks yang akan diajarkan harus sesuai dengan latar belakang siswa dan pola kehidupan.
Menurut Center dan Long dalam Rofi’uddin dan Zuhdi ada 11 kriteria pemilihan teks yaitu:
a. Ketersediaan teks bacaan
b. Teks harus menjadikan pilihan bahan sastra yang representatif.
c. Teks sastra tersebut dikenal siswa
d. Teks harus selaras dengan kurikulum
e. Teks harus selaras dengan budaya si pembaca (siswa)
f. Teks dikategorikan baru
g. Secara konseptual mudah bagi pembaca
h. Teks yang panjang lebih kompleks dibandingkan teks yang pendek
i. Teks berasal dari karya yang sempurna
j. Teks itu berhubungan dengan teks lain
k. Tema dan subjek teks dipilih dari jenis sastra
Usaha yang erat kaitanya dalam meningkatkan keterampilan membaca adalah masalah strategi pembelajaran membaca karya sastra. Tujuan pokok strategi ini adalah memberikan kemudahan belajar sehingga terdapat perhatian atau penekanan khusus pada pihak pembelajar. Salah satu strategi yang relevan dengan pendekatan ketrampilan proses adalah strategi strata, yang memiliki 3 langkah pokok:
a. Penjelajahan
Penjelajahan dapat dilakukan dengan membaca, bertanya, mengamati, menyaksikan pementasan, dan kegiatan lain yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang cipta sastra yang sedang dijelaskan.
b. Interpretasi
Setelah penjelajahan maka penafsiran dilakukan dengan cara penampilan dalam bentuk lain atau dengan jalan menganalisis unsur-unsur yang membangun cipta sastra tesebut.
c. Rekreasi
Langkah ini merupakan pendalaman siswa yang ditugaskan untuk mengkreasikan hal-hal yang sudah dipahaminya dengan menuliskan suatu bagian dalam sastra.
Secara garis besar, karya sastra dapat dikelompokkan menjadi puisi, prosa, dan drama. Kriteria penulisan puisi sebagai bahan pembelajaran:
a. Memberikan kegemaran dalam sejarah
b. Menjadi bagian dalam sejarah
c. Karya pengarang yang cukup bagus menurut ujian waktu
d. Problematik baik dari segi bentuk dan isinya
e. Karya dalam unsur musikal, agar menarik minat siswa
f. Sesuai dengan kemampuan siswa
g. Kaya dengan makna konotatif dan makna kias agar siswa dapat memahami perasaan yang menyertainya dan asosiasi yang ditimbulkannya sehingga siswa lebih peka terhadap bahasa puisi
h. Berhubungan dengan lingkungan siswa
i. Menarik minat dan selera siswa
Cara lain untuk mengatahui pemahaman siswa terhadap puisi yag dibaca adalah mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap puisi tersebut. Rusyana memberikan alternatif lain lagi pada pembelajaran puisi, yakni:
a. Mempelajari puisi yang akan dibawakan
b. Menentukan kegiatan yang akan dilakukan
c. Memberikan pengantar pengajaran
d. Menyajikan bahan pengajaran
e. Mendiskusikan puisi yang sudah dibaca
f. Memperdalam pengalaman
3. Strategi Membaca Cerita
Langkah-langkah strategi membaca:
a. Membaca atau mendengarkan cerita
b. Menganalisis amanat dan tokoh cerita
c. Berdiskusi kelompok
d. Melaporkan hasil diskusi
4. Strategi Membaca Naskah Drama
Pada drama terdapat unsur seperti alur, tema, latar, penokohan, dan konflik. Perbadaan fiksi dengan drama terdapat pada:
a. Wawancang dan Kramagung
Wawancang merupakan percakapan, dan kramagung merupakan perintah atau petunjuk untuk berbuat (biasanya ditulis dengan tanda kurung)
b. Babak dan Adegan
Kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu apresiasi dan ekspresi. Kegiatan apresiasi drama berarti membaca naskah, memperhatikan tokoh melalui perannya dan memperhatikan unsur peristiwa. Kegiatan ekspresi berarti mendramatisasikan naskah menjadi pertunjukan yang menarik
c. Alur
Alur adalah struktur gerak sebagai rangkaian peristiwa yang direka dan dijadikan dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita. Alur dibagi menjadi elemen-elemen:
1) Pengenalan
2) Timbulnya konflik
3) Konflik memuncak
4) Klimaks
5) Pemecahan masalah
d. Penokohan
e. Dialog
Dialog harus mencerminkan semua yang terjadi selama permainan, dan selama pementasan harus mencerminkan pikiran para tokoh yang berperan
Dalam mengapresiasi, orang diharapkan dapat memahami isi sebuah drama melalui unsur-unsur intrinsik drama tersebut. Mengapresiasi sebuah drama dapat dilakukan melalui kegiatan pementasan drama. Pembelajaran drama yang bersifat ekspresif dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: pertama, siswa diberi naskah drama untuk dibaca atau didalami. kedua, siswa diajak berdiskusi. Tahap terakhir diskusi berkaitan dengan compressed conflict atau konflik keadaan sebagai kegiatan mempertentengkan pandangan yang berbeda untuk memberika wawasan yang luas terhadap suatu objek.
Daftar Pustaka
St. Y Slamet. Dasar-Dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar
UPAYA PENINGKATAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEHNIK SKEMA
UPAYA PENINGKATAN
KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN
MELALUI PENERAPAN TEKNIK SKEMA
Oleh : Fuad Asnawi*
Abstrak. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penerapan teknik skema pada siswa kelas 2 SUP Mataram Kasihan Bantul Penelitian ini dilakukan pada 40 siswa kelas 2 SLTP Negeri Mataram Kasihan Kabupaten Bantul. Data dikumpulkan malalui observasi guru, siswa dan catatan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sebelum tindakan penelitian sebesar 50%, dan nilai rata-rata sesudah tindakan sebesar 73%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membaca pemahaman pada siswa SLTP Mataram Kasihan sebesar 23 %.
PENDAHULUAN
Berbahasa pada dasarnya adalah proses interaktif komunikatif yang menekankan pada aspek-aspek bahasa. Kemampuan memahami aspek-aspek tersebut sangat menentukan keberhasilan dalam proses komunikasi. Aspek-aspek bahasa tersebut antara lain keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Secara karakteristik, keempat keterampilan itu berdiri sendiri, namun dalam penggunaan bahasa sebagai proses komunikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan keterpaduan dari beberapa aspek. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang terdapat dalam GBPP SLTP Kelas 2 adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca selalu ada dalam setiap tema pembelajaran. Hal tersebut membuktikan pentingnya penguasaan keterampilan membaca.
Membaca, terutama membaca pemahaman bukanlah sebuah kegiatan yang pasif. Sebenarnya, pada peringkat yang lebih tinggi, membaca itu, bukan sekedar memahami lambang-lambang tertulis, melainkan pula memahami, menerima, menolak, membandingkan dan meyakini pendapat-pendapat yang ada dalam bacaan. Membaca pemahaman inilah yang dibina dan dikembangkan secara bertahap pada sekolah (Tompubolon: 1987).
Lebih dari itu, Tulalessy (1995) berpendapat bahwa membaca mahir (avented reading) harus mulai diajarkan pada siswa kelas 1 SLTP sehingga siswa SLTP bisa menuju pada membaca di seberang baris (reading beyond the lines).
Pembelajaran membaca pemahaman menggunakan teknik skema merupakan salah satu upaya tepat karena dengan teknik skema siswa harus menghubungkan pengalamannya dengan pengalaman yang ada dalam buku teks.
Menurut Sujana (1995) langkah-langkah pembelajaran menggunakan teknik skema adalah:
1) bersikap positif terhadap apa yang diketahui murid jadikanlah apa yang telah diketahui murid itu sebagai batu loncatan atau jembatan dalam usaha menolong mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan,
2) menggunakan analogi, perbandingan, bahkan kalau perlu, perbandingan metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau asing,
3) memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu.
4) metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau asing,
5) memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu.
Pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan membaca pemahaman siswa kelas 2 pada SUP Mataram Kasihan Bantulmasih cukup memprihatinkan. Hal tersebut dimungkinkan karena siswa tidak benar-benar memahami bacaan yang disediakan. Melihat kenyataan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Sebagai pemecahannya adalah dengan diterapkannya teknik skema dalam pembelajaran membaca pemahaman. Untuk mengetahui seberapa jauh teknik skema dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami teks bacaan, maka perlu diadakan penelitian tindakan.
Untuk memberikan arah penelitian yang jelas dan operasional berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan masalah penelitan ini sebagai berikut: Bagaimanakah upaya meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penerapan teknik skema siswa kelas 2 pada SLTP Mataram Kasihan Bantul?
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan keterampilan membaca pemahaman dengan menerapkan teknik skema pada siswa kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul. Jumlah subyek penelitian adalah 40 siswa kelas 2 pada SLTP tersebut. Karakteristik siswa pada dasarnya hampir sama (homogen). Lokasi sekolah jauh dari pusat kota, dengan latar sosial orang tua siswa rata-rata rendah sehingga berakibat pada rendahnya kemampuan mambaca siswa.
PROSEDUR PENELITIAN
Perencanaan
Sebelum tindakan dilakukan, dibuat perencanaan berikut ini:
1) Mengidentifikasi masalah,
2) Mengadakan tes,
3) Menyiapkan materi bacaan
4) Menyiapkan media,
5) Menyiapkan alat evaluasi.
TINDAKAN PENELITIAN
Penelitian tindakan dilaksanakan dalam 5 tindakan. Adapun langkah-langkah implementasi tindakannya adalah:
1) Guru dan siswa berdiskusi tentang materi yang akan diberikan.
2) Guru memberikan petunjuk yang berupa outline, dan gambar yang ada hubungannya dengan materi bacaan dan skemata siswa
3) Siswa membaca teks bacaan, dilanjutkan menuliskan kata-kata sukar,
4) Siswa mengungkapkan ide pokok setiap paragrap.
5) Siswa menceritakan kembali isi bacaan dengan bahasanya sendiri.
MONITORING DAN REFLEKSI
Monitoring dilaksanakan setiap tatap muka Hasil monitoring dijadikan refleksi setelah tatap muka berlangsung. Dalam refleksi, kolaborator dan pendamping memberi input tentang jalannya penelitian dalam kegiatan belajar mengajar, baik kekurangan maupun keberhasilan yang telah dicapai. Hasil tersebut dianalisis secara deskripti-kualitatif.
Teknik Pengumpulan Data
Pengaumpulan data dilakukan dengan cara:
1) Tes, dilakukan sebelum dan sesudah tindakan dilaksanakan.
2) Observasi, dilaksanakan peneliti dan kolaborator selama KBM berlangsung.
3) Catatan lapangan, untuk mencatat segala kegiatan siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dalam satu sikius. Satu siklus terdiri dari 5 tindakan, dengan 10 kunjungan silang. Adapun hasilnya adalah sebagai benkut:
Tindakan I
a. Guru mengucapkan salam dan memperkenalkan kolaborator kepada siswa.
b. Guru melakukan apersepsi, menuliskan judul bacaan pada papan tulis. Siswa memunculkan kata penyumbang darah, sehat, gemuk, golongan darah dan transfusi. Jawaban siswa ini ditulis guru pada outline yang telah disediakan.
c. Setelah pembelajaran berlangusung setengah jam, guru meminta siswa untuk membaca dalam hati bacaan "Tidak Semua Orang Bisa Jadi Donor Darah", dilanjutkan menuliskan kata-kata sukar beserta maknanya.
d. Guru menugaskan siswa menuliskan ide pokok pada papan tulis, siswa lain menaggapinya.
e. Sebelum pembelajaran diakhiri, guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum jelas tentang bacaan. Siswa diberi tugas untuk menceritakan kembali isi bacaan. Pembelajaran ini diakhiri dengan guru mengucapkan salam.
REFLEKSI
Pada awal pembelajaran ini, skemata siswa lambat muncul. Tanggapan siswa tidak sesuai dengan outline yang dituliskan guru pada papan tulis. Peneliti dan kolaborator bersepakat bahwa hal tersebut dimungkinkan dengan belum dioptimalkan media pembelajaran, di samping teknik skemata ini baru pertama dilaksnakan. Untuk itu, pada tindakan pembelajaran selanjutnya media pembelajaran dipersiapkan lebih mantap lagi.
Tindakan II
a. Setelah mengadakan apersepsi, Guru menempelkan judul bacaan pada papan tulis Siswa senang dengan adanya media yang ditempelkan di papan tulis.
b. Guru menawarkan kepada siswa untuk menuliskan jawabannya pada outline di papan tulis. Beberapa siswa maju untuk menuliskan kosa kata pada outline yang disediakan.
c. Guru menugasi siswa membaca bacaan menuliskan kata-kata sukar, kemudian mendiskusikan artinya, beberapa siswa mengartikan dengan bantuan kamus.
d. Kegiatan selanjutnya menugasi siswa untuk menuliskan ide pokok, dan menggabungkan menjadi paragraf yang padu.
e. Sebelum pembelajaran diakhiri, guru memberikan penegasan tentang penggunaan kata hubung.
REFLEKSI
a. Pada pembelajaran ini skematis siswa muncul pada awal pembelajaran. Hal ini dimungkinkan digunakannya media pembelajaran, sehingga siswa senang mengikuti pembelajaran.
b. Penulisan jawaban siswa pada papan tulis, dan pujian yang diberikan guru kepada siswa menjadikan motivasi siswa untuk lebih aktif. Peneliti dan kolaborator sepakat agar guru lebih sering memberikan penghargaan terhadap siswa.
Tindakan III
a. Pembelajaran diawali dengan apersepsi, dilanjutkan menuliskan tujuan pembelajaran dan judul bacaan pada papan tulis.
b. Guru menunjukkan bunga anggrek, dan siswa diminta memberikan tanggapannya. Indri dan Indah serempak memberikan tanggapannya. Siswa yang lain, Novi dan Ayu kemudian menanggapinya. Jawaban siswa ini oleh guru dimasukkan dalam outline yang telah disediakan.
c. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membaca bacaan "Holtikultura" selama kurang lebih lima menit.
d. Setelah membaca bacaan, guru dan siswa mencocokkan antara skema siswa dengan out-line bacaan. Hasilnya, banyak persamaan antara skemata siswa dengan outline yang dibuat guru. Dan guru menberikan pujian.
e. Pada kegiatan menentukan ide pokok, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah paragraf. Jawaban tiap kelompok dituliskan di papan tulis. Terjadi diskusi yang menarik pada saat masing-masing kelompok mempertahankan pekerjaannya. Hal ini terjadi karena kelompok yang satu (Indah) tidak menggunakan kata hubung dalam menggabungkan ide pokok, sedangkan kelompok yang lain (Novi) menggabungkan ide pokok dengan bentuk pasif. Dari jawaban guru yang diberikan, ternyata belum sepenuhnya dapat diterima siswa.
f. Sebelum pembelajaran ini diakhiri, guru menerangkan fungsi kata hubung dan kata pasif. Guru memberikan pekerjaan rumah siswa menceritakan kembali.
REFLEKSI
a. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media dapat membuat suasana kelas hidup dan hal tersebut memunculkan skemata siswa lebih awal.
b. Peneliti dan kolaborator bersepakat bahwa guru agar mempersiapkan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Hal ini akan memungkinkan siswa lebih bersikap positif dan kritis terhadap pembelajaran bahasa Indonesia.
Tindakan IV
a. Pembelajaran ini di awali guru dengan apersepsi, dilanjutkan dengan menuliskan tujuan pembelajaran dan judul bacaan,
b. Guru menggiring keterkaitan skemata siswa dengan topik pembelajaran dengan cara menempelkan slogan mensana in corpora sono.
c. Tanggapan siswa terhadap topik pembelajaran masih banyak yang kurang tepat. Hal ini terlihat dari jawaban siswa yang dimasukkan dalam out-line yang telah disiapkan guru banyak yang meleset.
d. Siswa membaca bacaan dan menuliskan kata sukar.
e. Guru memberikan tugas untuk menuliskan ide pokok siswa-siswa, misalnya Sulitiyangsih dan Dwi Fatmawati dapat menyelesaikan tugas dengan hasil baik.
f. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan tugas siswa menuliskan kembali isi bacaan dengan melihat outline bacaan yang telah dibetulkan guru.
REFLEKSI
a. Peneliti dan kolaborator menyepakati, letak ide pokok mudah dipahami siswa. Hal tersebut dimungkinkan sebagian besar ide pokok bacaan teletak pada awal paragraf.
b. Skemata siswa kurang cocok dengan materi bacaan. Hal tersebut dimungkinkan, teks bacaan yang digunakan untuk kegiatan membaca (tajuk rencana KR) memiliki tingkat kesulitan tinggi. Pada pembelajaran yang akan datang materi bacaan diharapkan yang sesuai dengan usia siswa.
Tindakan V
a. Guru mempersiapkan ruangan laboratorium untuk pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran OHP
b. Guru menunjukkan tujuan pembelajaran dan judul bacaan pada layar monitor. Siswa antusias menanggapi judul bacaan "Kiat Jadi Bintang Sinetron".
c. Beberapa siswa, antara lain: Indah, Ayu, Novi dan Wiwid menanggapi pertanyaan guru. Tanggapan siswa tersebut dituliskan pada out-line yang telah dipersiapkan guru.
d. Siswa membaca bacaan, menuliskan kata-kata sukar. Siswa berebutan maju mengartikan kata sukar di papan tulis. Selanjutnya, siswa ditugasi mencari ide pokok. Indah dan Yeni mewakili kelompoknya maju untuk menuliskan di papan tulis.
e. Dari bacaan tersebut, siswa berlatih membuat petunjuk menjadi bintang sinetron secara kelompok. Petunjuk yang ditulis siswa banyak yang sesuai dengan outline yang dibuat guru.
f. Sewaktu membedakan petunjuk pokok dan petunjuk penjelas, diskusi berlangsung menarik, masing-masing kelompok mempertahankan alasannya. Guru menjelaskan, menguatkan, dan memberi pujian terhadap alasan yang dikemukakan siswa.
g. Sebelum pembelajaran diakhiri, kolaborator dan guru inti berpamitan terhadap siswa. Kegiatan ini oleh siswa diakhiri dengan perasaan senang.
REFLEKSI
a. Peneliti, kolaborator dan pendamping menyimpulkan bahwa pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang direncanakan. Penggunaan media pembelajaran yang tepat, misalnya OHP menjadikan KBM berlangsung dengan susana menarik.
b. Materi pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan siswa (diambil dari Fantasi) menarik perhatian siswa. Hal tersebut menumbuhkan sikap positif terhadap pembelajaran membaca.
SIMPULAN
Penerapan teknik skema pada pembelajaran keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul, dapat meningkatkan membaca pemahaman pada siswa tersebut. Hal ini ditunjukkan dari hasil nilai rata-rata sebelum tindakan sebesar 50% dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata sesudah tindakan sebesar 73%, terjadi peningkatan nlai sebesar 23%.
DAFTAR PUSTAKA
1) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1966. Garis-garis program pengajaran. Jakarta: Depdikbud
2) Hamied, F.A. 1995. Teori skema dan kemampuan analistis dalam bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius
3) Moelono, A.M. 1990. Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
4) Sujana, A.S.H. 1988. Modul materi pokok membaca UT. Jakarta: Karunika.
5) Purwo, B.K. 1979. Pokok-pokok pengajaran dan kurikulum bahasa Indonesia 1994. Jakarta: Depdikbud.
6) Soedarsono, F.X. 1987. Pedoman pelestarian penelitian tindakan kelas. Yogyakarta: Dikti
7) Syamsi, K. 2000. Makalah penyusunan proposal penelitian tindakan kelas. Yogyakarta: disampaikan pada Pelatihan Demand Driven di SLTPN 1 Sewon, September 2001.
8) Tarigan, H. 1987. Pengajaran membaca. Bandung: Ganesa.
9) Tulalessy, D. 1991. Kompetensi membaca bulletin pusat perbukuan. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdikbud.
--------------------------------
*) Fuad Asnawi adalah Guru Bahasa Indonesia SLTP Mataram, Kasihan. Kabupaten Bantul D.I. Jokyakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)